SUKU SAMBORI

AKTOR DAN ARTIS ACARA TV PRIMITIF RUNAWAY BERSAMA MASYARAKAT SUKU SAMBORI BIMA NTB

HANTA UA PUA

LAPANGAN MERDEKA BIMA

MPA'A NTUMBU

KESENIAN TRADISI MASYARAKAT WAWO BIMA NTB

WARTAWAN

KAMPUNG HALAMANKU YANG MENJADI INVESTASI KAMU,DIA, DAN MEREKA

SUKU DONGGO

TARI KALERO PADA UPACARA KEMATIAN SUKU DONGGO BIMA NTB

Wednesday, January 23, 2013

Uma Dou Mbojo



      Bagi masyarakat Bima Rumah atau Uma Ngge’e Kai  merupakan kebutuhan paling pokok dalam kehidupan keluarga. Dalam falsafah masyarakat Bima lama bahwa orang yang baik itu  yang berasal dari keturunan yang baik, harus mempunyai istri yang berbudi mulia, rumah yang kuat dan indah, senjata pusaka yang sakti dan kuda tunggang yang lincah. Dari ungkapan di atas, jelaslah bahwa rumah merupakan kebutuhan pokok yang tidak boleh diabaikan. Karena itu dalam membangun rumah  harus memilih PANGGITA atau arsitek yang memiliki Loa Ra Tingi yang tinggi dan berakhlak mulia. Panggita juga harus memahami SASATO (Sifat atau pribadi) pemilik  rumah. Baku Ro Uku atau bentuk dan ukuran dalam arti tata ruang harus disesuaikan dengan sifat dan kepribadian pemilik rumah.
Bentuk dan jenis rumah Bima hampir sama dengan rumah tradisional Makassar dan Bugis. Di Bima dikenal dua jenis rumah yaitu Uma Panggu Ceko dengan gaya arsitektur tradisional Makassar dan Uma Panggu Pa’a gaya arsitektur tradisional Bugis. Dari dua jenis rumah itu, sebenarnya tidak ada perbedaan yang mendasar. Pada tiang Uma Ceko dipasang dua buah ceko(siku)  untuk menunjang kekuatan pengapit (Nggapi). Sedangkan pada tiang Uma Pa’a tidak dipasang Ceko (Siku), pengapit pada Uma Pa’a terdiri dari sepasang Kayu. Sebaliknya Nggapi(Pengapit ) Uma Ceko terdiri dari dua buah kayu yang akan ditopang oleh Ceko(Siku).
Ukuran atau jumlah bilik rumah Bima tergantung jumlah tiangnya yaitu Sampuru Ini Ri’i (Enam Belas Tiang), Sampuru Dua Ri’I (Dua Belas Tiang), Ciwi Ri’I (Sembilan tiang), Ini Ri’I ( Enam Tiang).  Rumah enam belas tiang memiliki panjang sekitar sembilan meter dan lebar sekitar 6 meter. Yang dua Belas tiang memiliki panjang sekitar 8 meter dan lebar 5 meter. Untuk yang sembilan dan enam tiang ukuran panjang dan lebarnya disesuaikan secara ideal dengan tinggi tiang dan jumlah kamar atau biliknya. Rumah Enam Belas Tiang memiliki 4 bilik atau kamar yang di sebut RO. RO Tando berfungsi sebagai tempat pelaksanaan upacara. Pada Saat tertentu digunakan untuk kamar tidur Tamu. Ro Dei (Ruang Dalam) untuk tempat tidur Ayah Ibu. Ro Do (Ruang Selatan) terdiri dari dua bilik  yaitu untuk tempat tidur anak-anak putera. Pada umumnya anak gadis tidur dan beristirahat di Pamoka (Loteng) sambil menenun dan menyulam. Kalaupun posisi rumah menghadap barat-timut, maka Ro Do disebut Ro Ele(Ruang Timur). Jadi nama ruang(bilik) ketiga dan ke empat tergantung dari arah berdirinya rumah. Idealnya Rumah harus menghadap arah barat-timur.
Pada umumnya semua rumah dibuat dari kayu jati dan kayu hutan yang bermutu,   kuat dan tahan lama. Atap rumah cukup beragam, disesuaikan dengan status sosial ekonomi para pemiliknya. Tapi untuk rumah Bima yang lama semuanya menggunakan alang-alang yang dirajut tebal. Bagi yang kurang mampu, beratap ilalang. Bagi yang tergolong mampu, memakai atap Sante(sejenis sire dari bambu), Genteng, seng, dan khusus Istana Bima beratap Sire yang dibuat dari potongan kayu besi yang sudah dibelah-belah.
Sudah menjadi ketentuan adat, bahwa setiap rumah tradisional Bima memiliki Sancaka (Serambi atau Beranda) yang terdiri dari : Sancaka Tando(Serambi Depan) untuk para tamu dan tempat istirahat Ayah beserta anak laki-lakinya. Sancaka Riha(Dapur), berfungsi sebagai dapur dan tempat menyimpan barang pecah belah. Sancaka Wela(Serambi Samping), berfungsi sebagai tempat istirahat para anggota keluarga.
Khusus rumah keluarga besar Istana atau golongan bangsawan, di serambi depan  dibuat satu bangunan yang bernama “ Sampana “ berperan sebagai tangga dan disamping kiri kanannya  berfungsi untuk tempat duduk. Ciri khas lain yang membedakan rumah rakyat dengan rumah keluarga bangsawan yaitu jumlah jenjang atap bagian depan dan belakang (Sarinci Uma). Kalau jenjang atau Sarinci terdiri dari tiga tingkat berarti pemilik rumah adalah bangsawan tinggi. Kalau dua tingkat berarti rumah bangsawan menengah. Kalau tutupan Sarincinya hanya satu, berarti rumah rakyat biasa.
( : Seni Rupa Mbojo (Seni Rupa Dan Seni Arsitektur) M. Hilir Ismail dkk)

Lupe Jas Hujan Suku Sambori (Bima NTB)



      Pada umumnya Kerajinan tradisional adalah proses pembuatan atau pengadaan peralatan dan perlengkapan hidup mencakup pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, alat-alat transportasi dan lain sebagainya. Proses pembuatannya harus berpedoman pada nilai dan norma budaya, sebab semua perlengkapan hidup yang dibuat, merupakan salah satu unsur budaya.

Ketrampilan yang dimiliki oleh para pengrajin, diperoleh dari warisan leluhur, tanpa melalui pendidikan formal. Bermodalkan ketrampilan yanng dimiliki, mereka mampu membuat berbagai jenis barang, walau dengan peralatan yang sederhana. Bahan baku yang dibutuhkan, mudah diperoleh disekitar lingkungannya, antara lain Tumbuh-tumbuhan, Logam, Batu-batuan, tulang dan Kulit hewan dan sebagainya.

Kerajinan tradisional Mbojo kaya dengan jenis dan bentuknya. Bukan hanya tahan lama dan kuat, tetapi juga mengandung nilai seni budaya yang tinggi. Karena itu kerajinan tradisonal Mbojo harus dilestarikan oleh Pemerintah dan Masyarakat. Kalau usaha pelestarian dan pengembangan itu tidak segera dilaksanakan secara sungguh-sungguh, maka dikhawatirkan dalam waktu yang tidak lama, kerajinan tradisional Mbojo, akan dilupakan oleh masyarakat pemiliknya. Kekhawatiran itu cukup beralasan, melihat adanya kecenderungan masyarakat yang menganggap bahwa hasil kerajinan tradisional Mbojo, selain tidak bermutu juga sudah gersang dengan nilai seni.

Saya tertarik ketika menonton acara Runway Primitive Sambori di Trans TV pada jum’at malam 17 Desember 2010. Dalam rangkaian acara itu, seorang ibu warga Sambori mengenakan sebuah penutup kepala dari anyaman daun pandan yang menutupi kepala dan sebagian tubuhnya. Orang-orang Sambori dan suku Mbojo menyebutnya dengan Lupe. Lupe berbentuk lonjong, menutupi kepala dan badan yang berfungsi sebagai topi/payung sekaligus Jas Hujan. Yah, bisa dikatakan bahwa Lupe adalah Jas Hujan Tradisional masyarakat Mbojo tempo dulu terutama di wilayah Donggo Ele yang meliputi Kuta, Teta, Sambori, dan  Kaboro. Daun pandan gunung, berdaun lebar lagi panjang, seratnya kuat tidak mudah robek. Lupe sangat cocok bagi petani peternak atau pengembala yang sedang bekerja di sawah ladang dan padang nan luas.

Pada umumnya anyaman yang bahan bakunya Daun Pandan  (Bima : Ro’o Fanda), hasil anyaman pengrajin dari Donggo Ele (Donggo Timur) yaitu dari Desa Kuta, Sambori Kaboro dan Teta. Tetapi ada juga yang dianyam oleh masyarakat Mbojo yang bertempat tinggal di daerah dataran tinggi, seperti Desa Lela Mase (Kec. Rasanae Timur), dan beberapa desa di Kecamatan Wawo Kabupaten Bima. Pohon pandan dalam berbagai jenis bisa tumbuh subur di daerah Bima dan Dompu. Sebab itu persediaan bahan  baku untuk anyaman daun pandan tidak ada masalah.

Cara membuat Lupe tidaklah terlalu sulit bagi masyarakat Mbojo terutama masyarakat Sambori dan Sekitarnya. Daun Pandan yang telah diambil dari pohonnya dikeringkan lebih dulu, kemudian dianyam. Cara menganyamnya yaitu dengan menyilang daun pandan yang satu dengan daun pandan yang lainnya, dan hampir sama dengan mengayanyam Tikar Pandan atau Dipi Fanda. Yang membedakakanya adalah finishing dari Lupe yang menyerupai Topi atau payung. Dibutuhkan waktu satu hari untuk menganyam Lupe sampai menghasilkan anyaman Lupe yang siap untuk dikenakan terutama untuk melindungi diri dari hujan dan terik matarahari.

Lupe sangat unik. Ini adalah sebuah warisan leluhur masyarakat Mbojo yang perlu dilestarikan keberadaanya. Jika desa Tradisional Sambori itu betul-betul dikembangkan sebagai desa adat, maka Lupe dan komoditi lainnya dari desa ini sangat berpotensi sebagai salah satu souvenir atau oleh-oleh buat wisatawan yang berkunjung. Hal ini tentunya akan menggairahkan para pengrajin di wilayah ini untuk memproduksi lupe dan kerajinan ketrampilan lainnya untuk menopang perekonomian mereka.
(http://alanmalingi.wordpress.com)

Rawa Mbojo (Kapatu Mbojo)


 









      Musik vokal dalam bahasa Bima-Dompu adalah “rawa” yang artinya sama dengan “lagu” atau “nyanyian”. Lagu atau nyanyian yang diiringi dengan musik instrumen tunggal biola atau gambo, dan boleh juga diiringi instrumen biola bersama gambo. Rawa Mbojo merupakan seni musik yang sangat digemari oleh masyarakat Bima baik di Bima maupun di Dompu. Lazimnya ditampilkan sebagai acara hiburan pada upacara pernikahan dan kadang-kadang dilaksankan di sawah ladang, sebagai hiburan bagi para remaja yang sedang menanam atau memanem padi.
Pada akhir-akhir ini rawa Mbojo sering dipentaskan pada kegiatan festival dan pergelaran seni tradisional di tingkat Kabupaten dan Provinsi, bahkan sampai di tingkat nasional. Rawa Mbojo biasa dinyanyikan oleh seorang penyanyi perempuan dengan berbusana rimpu. Tetapi sering pula dinyanyikan oleh dua orang dan kadang dinyanyikan oleh penyanyi laki-laki.

Berdasarkan jenis “Ntoko” (irama) serta isi “patu rawa” (pantun lagu) pada setiap ntoko, rawa Mbojo terdiri dari :

a.    Ntoko Sera
Merupakan ntoko rawa Mbojo yang tertua, sudah mulai dikenal sejak jaman keajaan. Dinyanyikan dengan ntoko atau irama mirip seriosa, melantunkan kata yang berisi luapam rasa rindu kepada sang kekasih dan rasa kagum terhadap keindahan alam. Ntoko sera dilantunkan ketika seorang sedang berkelana di sera atau padang nan luas dikelilingi gunung yang menghijau. Karena itu ntoko diberinama ntoko sera (padang nan luas), sayang, pada akhir – akhir ini, sudah jarang penyanyi yang dapat melantunkan ntoko sera.
b.   Ntoko Tambora
Termaksud ntoko tertua sesudah ntoko sera. Ntoko Tambora mirip irama keroncong, biasanya dinyanyikan oleh para pelaut dikala kapal atau perahu mereka sedang diserang badai dan gelombang besar. Pada suasana yang mencekam itu mereka melantunkan ntoko dengan patu yang menggambarkan suasana laut tidak bersahabat serta rasa rindu kepada sanak keluarga yang ditinggalkan. Suasana laut yang bergelombang besar dan tinggi bagaikan Gunung Tambora, karena itu ntoko ini dinamakan Ntoko Tambora.
c.    Ntoko Lopi Penge
Lopi penge dapat diartikan sebagai perahu (lopi) yang tidak jemu dan tidak bosan berlayar (penge). Ntoko ini biasa dilantunkan oleh para pelaut dan nelayan di kala sedang berlayar di samudera nan luas lagi tenang damai. Kerinduan pada kedamaian dan keindahan laut, mengundang para pelaut untuk terus berlayar sepanjang waktu.
d.   Ntoko Dali
Ntoko Dali merupakan Ntoko yang sangat digemari oleh seluruh lapisan masyarakat. Patu berisi nasehat dan petuah untuk melaksanakan ibadah dan segala amal shaleh serta menjauhkan diri dari perbuatan tercela. Nasehat itu berasal dari intisari dalil (dali), karena itu ntoko ini di berinama “dali”. Ntoko ini mulai populer pada zaman kesultanan , dijadikan sebagai media dakwah.
e.    Ntoko Haju Jati
Pada awalnya, ntoko ini biasanya dinyanyikan sebagai pelepas lelah di kala sedang menebang kayu jati di tengah hutan belantara. Seraya menebang dan memotong serta menggeragaji kayu, para tukang kayu melantunkan ntoko yang patunya berisi pujian terhadap kekuatan serta ketahanan kayu jati untuk bahan bangunan rumah. Oleh sebab itu ntoko ini diberi nama ntoko haju jati.
f.    Ntoko Kanco Wanco
Melalui ntoko dan patu kanco wanco, penyanyi melukiskan kisah kehidupan yang penuh dengan tantangan dan ujian, bagaikan sebuah perahu yang sedang diterpa gelombang.
g.   Ntoko Salondo Reo dan Rindo
Patu ntoko salondo reo berisi ratapan hati anak istri dan masyarakat Reo di Manggarai, karena mereka hidup berpisah dengan suami dan saudaranya yang ditawan dan dijadikan abdi Istana oleh para Sultan Bima. Selain ntoko salondo reo, adalagi ntoko yang berisi kritikan dari masyarakat Manggarai atas kekejaman para Sultan Bima yang menawan suami dan saudara mereka. Ntoko dan patu kritikan populer dengan nama “rindo”. Walau dua jenis Ntoko berisi kritikan terhadap para Sultan, namun tidak dilarang untuk berkembang di lingkungan masyarakat. Bahkan pada upacara-upacara adat kesultanan, dua jenis Ntoko ini di senandungkan dihadapan Sultan dan para pembesar negeri.
Masih banyak lagi jenis Ntoko Rawa Mbojo yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat, dari sekian banyak Ntoko-Ntoko itu antara lain Ntoko Jiki Maya, Teke Mpende, Sajoli, E’aule dan Tembe Jao Galomba. (Sumber : M. Hilir Ismail,Linda Yuliarti)

Tari Lenggo


       









      Secara garis besar tarian tradisional Bima dibagi dalam dua kelompok yaitu Mpa’a Asi (Tarian Istana) dan Mpa’a Ari Mai Ba Asia tau tarian diluar Istana yang lazim dikenal dengan tarian rakyat. Pada masa lalu dua kelompok seni tari ini berjalan beriringan dan berkembang cukup baik.

Tari Istana dikelompokkan dalam dua kategori sesuai jenis kelamin penarinya yaitu:
a.  Tari Siwe (tari perempuan), yaitu jenis tari yang dimainkan oleh para penari perempuan seperti lenggo siwe (lenggo Mbojo), toja, lengsara, katubu dan karaenta.
b.  Tari Mone (tari laki-laki), yaitu jenis tari yang dimainkan oleh penari laki-laki, seperti kanja, sere, soka, manca, lenggo mone (lenggo melayu) dan mpa’a sampari.

Sedangkan Tari Ari Mai Ba Asi (tari di luar pagar istana), dalam pengertian tari rakyat, meliputi mpa’a sila, gantao dan buja kadanda. Semua jenis tari dimainkan oleh penari laki-laki. Tidak ada jenis tari rakyat yang dimainkan oleh penari perempuan. Selain itu, masih ada lagi jenis tari yang merupakan perpaduan antara seni tari dan seni musik yaitu Jiki Hadra (Jikir hadrah), dimainkan oleh para penari dan penyanyi laki-laki.
Nah, dilihat dari pembagian kelompok di atas maka Tari Lenggo merupakan Tari Klasik Istana. Tarian ini ada dua yaitu Lenggo Siwe(Lenggo Mbojo) dan Lenggo Mone(Lenggo Melayu).  Tari Lenggo Mbojo ini diciptakan oleh Sultan Abdul khair Sirajuddin,Sultan Bima kedua yang memerintah pada tahun1640-1682 M. Abdul Khair Sirajuddin  terkenal sebagai seorang budayawan dan seniman selain sebagai panglima perang yang gagah berani. Pada masanya perkembangan seni budaya islam berkembang pesat, terutama seni tari, seni sastra, seni ukir dan arsitektur. Pada umumnya tari klasik Bima selain ciptaan, juga merupakan hasil kreasi Abdul Khair Sirajuddin. Lenggo siwe dimainkan oleh setengah pangka (enam Orang) penari putri, karena itu di berinama lenggo siwe (lenggo putri). Kadang-kadang disebut “lenggo Mbojo”, untuk membedakanya dengan jenis tari lenggo melayu (melayu) yang dimainkan oleh penari pria (mone). Ciptaan para ulama melayu pada masa pemeintahan Sultan Abdul Khair Sirajuddin. Kedua jenis lenggo itu  lazimnya dipergelarkan dalam satu kesatuan tari pada waktu yang sama dalam upacara UA PUA (sirih puan), oleh karena itu diberinama lenggo UA PUA.